Ketua Klasis Lobalain Soroti “Judi” Berkedok Hiburan di Arena Pameran, Minta Polisi Hentikan

Rote Ndao, NTT

Suara ketegasan mulai bergema dari kalangan pemuka agama di Kabupaten Rote Ndao. Maraknya praktik yang diduga sebagai perjudian berkedok hiburan di lokasi Pameran Pembangunan dan Expo UMKM mendapat kecaman keras. Ketua Klasis Lobalain, Pdt. Mariana J.B.B. Sirah, S.Th., secara tegas meminta Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, jajaran gereja, tokoh adat, dan Kepolisian segera mengambil langkah nyata untuk menghentikan hal tersebut.

Pdt. Mariana menegaskan dukungan penuh pihaknya terhadap penyelenggaraan pameran yang diselenggarakan menyambut HUT RI ke-81. Kegiatan ini dinilai membawa dampak positif dan dapat mendongkrak Pendapatan Asli Daerah sekaligus membantu pelaku UMKM berkembang.

Namun dukungan itu tidak berarti menutup mata terhadap sisi gelap yang mulai merayap masuk.

“Kami mendukung sepenuhnya niat baik pemerintah. Namun kita tidak bisa pura-pura tidak melihat. Di stan-stan tertentu yang mengaku sebagai uji ketangkasan dan arisan berhadiah, perlahan-lahan muncul praktik perjudian. Awal pembukaan belum begitu terlihat, namun menjelang pertengahan hingga akhir bulan, permainan rolet, bingo, dan sejenisnya pasti bermunculan,” ungkap Pdt. Mariana saat dikonfirmasi di kediamannya, Jumat (7/8/2026) pukul 11.28 Wita.

Masyarakat secara terbuka mengakui bahwa keramaian pameran justru didorong oleh adanya unsur perjudian yang dibungkus dengan nama uji ketangkasan dan arisan barang.

Hal ini dinilai sangat meresahkan.

Orang menjadi terbiasa berharap kaya secara instan tanpa bekerja keras dengn cukup membeli kupon dan berharap keberuntungan berpihak. Jika kalah, mereka kembali mencoba tanpa disadari semakin terjerat.

“Di balik itu ada kerja iblis yang mendorong orang untuk meraup keuntungan dengan cara yang tidak benar. Memang benar ada yang membawa pulang minyak goreng dan sembako tanpa bersusah payah. Tapi lihatlah sisi yang lain: jika terus-menerus kalah, rumah tangga bisa retak, biaya pendidikan anak terabaikan. Judi tidak pernah membuat orang kaya, ia justru membuat orang jatuh miskin,” tegasnya.

Yang paling menyakitkan hati, pameran berlangsung di Lapangan Sepak Bola Christian Nehemia Dillak, tempat yang dikelilingi rumah-rumah ibadah dan berdampingan langsung dengan Kantor Polsek Lobalain.

“Masa orang berjudi di tengah-tengah lingkungan yang dikelilingi rumah ibadah dan bersebelahan langsung dengan kantor kepolisian?

Awal pembukaan selalu diawali KKR dan doa bersama, namun fakta yang tersembunyi sungguh memilukan. Ini ada apa sebenarnya,” ujar Pdt. Mariana kesal.

Pdt. Mariana meminta pihak Kepolisian Polres Rote Ndao bersikap ekstra tegas. Izin keramaian tidak boleh sekadar diserahkan kepada pemohon lalu dibiarkan begitu saja. Polisi harus hadir di lapangan, mengawasi setiap kegiatan yang berpotensi menyimpang.

“Panitia dan kepolisian perlu dievaluasi. Bukan sekadar memberi peringatan lisan, tapi benar-benar menindak. Stan yang diduga menyelenggarakan judi terselubung harus segera dihentikan. Setelah kegiatan budaya selesai sesuai waktu yang disepakati, lampu harus dipadamkan dan keamanan harus mengawasi. Karena kebiasaan buruknya, usai acara budaya justru stan-stan yang mencurigakan itulah yang menjadi sorotan utama masyarakat,” tegasnya.

Selain itu, masih ditemukan pula konsumsi minuman keras yang mengganggu ketertiban umum — hal yang seharusnya tidak terjadi di lokasi kegiatan resmi pemerintah.

Bupati Diminta Tegur Panitia yang Lalai

Pdt. Mariana meminta Bupati Rote Ndao menegur panitia yang terkesan melalaikan tugas pokok dan fungsinya. Gereja dengan tegas menolak segala bentuk perjudian dalam bentuk apa pun, di mana pun tempatnya.

“Judi mendorong orang ingin cepat kaya tanpa mengeluarkan keringat. Itu bukan jalan yang benar. Jika pemerintah terkesan membiarkan, berarti pemerintah sedang memupuk kemiskinan di tengah masyarakatnya. Banyak pekerjaan menjadi terlantar, banyak pegawai yang bertengkar, banyak rumah tangga yang minta cerai — semuanya gara-gara judi,” ujarnya.

Pdt. Mariana mengingatkan peran Manaleo, kerja sama antara Pemerintah, Gereja, dan Tokoh Adat untuk bersatu menindak tegas. Kepolisian juga diminta konsisten dalam penindakan.

“Jangan sampai tertangkap lalu setelah ngopi bersama dilepaskan kembali. Yang tertangkap harus dibawa ke pengadilan agar ada efek jera yang nyata. Judi tidak boleh diberi ruang sedikit pun di tanah Rote Ndao,” tegas Pdt. Mariana mengakhiri pernyataannya dengan ketegasan yang tak tergoyahkan. (tim)

Bagikan: