Rote Ndao, NTT
Menurunnya kehadiran pemuda dalam ibadah menjadi perhatian tersendiri bagi GMIT Imanuel Oeledo di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.
Untuk menjawab tantangan itu, jemaat tidak menggelar pengajaran tambahan atau pertemuan khusus. Sebaliknya, mereka memilih jalan yang lebih akrab bagi kaum muda, yakni menggelar turnamen sepak bola.
Bertajuk “GMIT Imanuel Oeledo Cup”, kegiatan ini resmi masuk dalam program pelayanan gereja sejak Juni 2026. Tujuannya bukan untuk mencetak atlet, melainkan membangun kembali ikatan persekutuan yang mulai renggang.
Pdt. Oktavelani Mariana Kore, S.Si-Teol., M.Th., yang akrab disapa Ipen Omi, mengaku turnamen ini dimulai dari percakapan sederhana.
Sebagai pendeta yang baru berusia 29 tahun, ia mencoba mendengarkan apa yang sesungguhnya diinginkan kaum mudanya.
“Saya melihat tingkat kehadiran dalam ibadah pemuda itu menurun. Akhirnya saya evaluasi dan tanyakan, kira-kira teman-teman pemuda di sini sukanya apa, biar kita buat kegiatan agar sama-sama hadir dan berpartisipasi. Dan mereka mengatakan bahwa mereka suka main bola,” ungkapnya.
“Akhirnya saya bilang, kalau dengan diadakannya turnamen sepak bola bisa memacu semangat teman-teman untuk beribadah, ya kita bikin,” imbuhnya.

Ternyata, langkah itu mendapat sambutan yang melampaui ekspektasi. Antusiasme tidak hanya datang dari kalangan peserta yang berusia maksimal 28 tahun. Seluruh lapisan jemaat, mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, hingga warga lanjut usia, turut hadir dan menyaksikan pertandingan.
“Saya senang sekali melihat banyak orang bisa datang di sini. Teman-teman pemuda juga bisa saling mengenal lebih dekat, bahkan semua tidak hanya pemuda, mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu sampai yang sudah lanjut usia pun antusias menyaksikan berjalannya turnamen,” kata Ipen Omi.
Meski berupa pertandingan, pesan yang disampaikan kepada setiap peserta sangat tegas. Persekutuan lebih utama daripada kemenangan.
“Saya selalu berpesan, jangan bertanding seolah-olah kita memperebutkan sesuatu. Tujuannya untuk meningkatkan persekutuan,” ungkapnya.
Persiapan hingga pelaksanaan tentu tidak lepas dari berbagai kendala. Namun dukungan dari sesama pemuda dan status kegiatan sebagai program resmi gereja menjadi kekuatan yang membuat semuanya tetap berjalan.
Ketua Panitia Pelaksana, Afret Nadek, menilai makna turnamen ini jauh melampaui sekadar skor di lapangan.
“Persiapan sebelum turnamen ini kami menemukan berbagai macam tantangan. Tetapi karena kami mendapat dukungan dari teman-teman pemuda dan kebetulan kegiatan ini adalah program gereja, serta kami pemuda-pemudi dipercaya untuk mengambil bagian dari kegiatan ini,” jelas Afret.
“Ini salah satu cara untuk mempererat persekutuan dan membentuk karakter kita. Semoga turnamen ini menjadi salah satu ajang untuk kita mempererat persekutuan dalam gereja,” tambahnya.
Ipen Omi menyadari penyelenggaraan pertama ini belum sempurna. Namun justru dari kekurangan-kekurangan itulah ia belajar dan berharap kegiatan ini terus berlanjut setiap tahun.
“Saya berharap kegiatan ini berjalan dengan baik dan persekutuan semakin meningkat. Kami belajar bahwa dalam pertandingan ini kami masih punya banyak kekurangan, tapi dari pengalaman ini kami akan perbaiki segala sesuatu yang kurang di tahun-tahun berikutnya. Dan saya juga berharap kegiatan ini terus berlanjut setiap tahunnya,” jelasnya.
Di ujung selatan Pulau Rote, satu lapangan sepak bola kini menjadi ruang baru bagi iman untuk tumbuh. Bola menggelinding, persekutuan pun perlahan kembali bangkit.
Penulis : Roman Malelak.