Prevy Seltriani Taek Raih Juara 3 AHY Muda 2026, Harumkan Nama NTT di Panggung Nasional

Jakarta

Dari ruang kelas SMK Negeri 4 Kupang, sebuah suara anak muda dari Nusa Tenggara Timur berhasil menembus panggung nasional. Prevy Seltriani Taek meraih Juara 3 Lomba Pidato AHY Muda 2026, setelah melewati persaingan ketat yang melibatkan 1.317 peserta dari 31 provinsi di seluruh Indonesia. Pengumuman tersebut disampaikan dalam acara puncak Apresiasi Juara Nasional Lomba AHY Muda 2026 di Auditorium AHY, Kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta, Sabtu (19/9/2026).

Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat sekaligus Ketua Tim Juri Nasional, Herman Khaeron, secara resmi mengumumkan tiga peraih penghargaan tertinggi. Juara pertama diraih Alvino Radzaky Janersa dari Riau, juara kedua oleh Grelhia Lovelly Bau Bau dari Maluku Utara, dan juara ketiga jatuh kepada Prevy Seltriani Taek, satu-satunya perwakilan NTT yang berhasil menembus tiga besar.

Bagi NTT, pencapaian ini bukan sekadar kemenangan dalam sebuah lomba pidato. Prevy hadir membawa suara generasi muda dari daerah yang mendambakan ruang lebih luas untuk belajar, bekerja, berwirausaha, dan membangun masa depan di tanah kelahirannya sendiri.

Dalam pidatonya bertema “Dari Potensi Menjadi Kesejahteraan”, Prevy mengangkat paradoks pembangunan yang kerap dirasakan di daerah seperti NTT — tanah yang kaya akan sumber daya alam dan budaya, namun belum sepenuhnya mampu mengubah kekayaan itu menjadi kesejahteraan bagi generasi mudanya.

Ia membuka gagasannya dengan pertanyaan yang menggugah,

“Mengapa anak muda dari daerah yang kaya harus pergi jauh hanya untuk mencari kesempatan hidup yang layak?”

Prevy menggambarkan kekayaan NTT melalui kopi, mete, rumput laut, peternakan, dan tenun. Namun, menurutnya, kekayaan tersebut perlu diikuti dengan penguatan keterampilan, investasi produktif, serta akses pasar yang adil agar menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat lokal.

“Kami kaya potensi. Tetapi belum cukup kaya kesempatan,” tegasnya.

Sebagai siswi SMK, ia menginginkan pendidikan kejuruan yang tidak berhenti pada pemberian ijazah, tetapi mampu melahirkan tenaga kerja terampil sekaligus wirausahawan muda. Ia mengambil contoh sederhana dari komoditas kopi: anak muda NTT tidak seharusnya hanya menjual biji kopi, tetapi perlu memperoleh kemampuan mengolah, mengemas, membangun merek, hingga memasarkannya ke seluruh Indonesia. Melalui contoh itu, Prevy menerjemahkan gagasan hilirisasi ke dalam kehidupan sehari-hari — bagaimana kekayaan daerah dapat diolah menjadi produk bernilai tambah, membuka lapangan pekerjaan, dan meningkatkan penghasilan keluarga.

Di hadapan para pemimpin nasional, Prevy menyampaikan tiga harapan utama: penguatan keterampilan generasi muda, kehadiran investasi yang membuka pekerjaan, serta akses pasar bagi produk-produk lokal. Ia juga menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur yang diikuti dengan penciptaan kesempatan ekonomi di daerah.

“Jangan hanya bangun jalan agar anak muda NTT lebih mudah pergi. Bangun juga kesempatan agar kami punya alasan untuk tinggal, berkarya, dan membangun daerah sendiri!”

Bagi Prevy, merantau bukanlah kesalahan. Namun, anak muda seharusnya memiliki pilihan untuk bekerja dan membangun kehidupan yang layak di kampung halamannya sendiri. Pesan tersebut sekaligus menjadi inti pidatonya. Pembangunan tidak cukup diukur dari jalan dan gedung yang dibangun, tetapi juga dari kesempatan yang terbuka bagi manusia untuk memperbaiki kehidupannya.

Prevy menutup pidatonya dengan seruan yang menjadi pesan utama perjuangannya.

“Kami tidak meminta belas kasihan. Kami meminta kesempatan! Berikan kami ruang, dan biarkan anak muda NTT mengerjakan sisanya! Dari NTT, untuk Indonesia!”

Perjalanan Prevy menuju panggung nasional tidak berlangsung singkat. Kompetisi AHY Muda 2026 — bagian dari rangkaian Lomba Rakyat memperingati HUT ke-25 Partai Demokrat — diikuti 1.317 peserta dari 31 provinsi. Setelah melalui beberapa tahapan seleksi, peserta mengerucut menjadi sembilan finalis yang berhak mengikuti tahapan akhir di Jakarta. Prevy menjadi satu-satunya wakil NTT yang berhasil menembus tiga besar.

Kompetisi ini mengusung tema “Memajukan Ekonomi, Menegakkan Keadilan dan Menjaga Demokrasi”, yang memberikan ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan gagasan mengenai persoalan kebangsaan. Keberhasilan Prevy menjadi catatan penting bagi dunia pendidikan NTT, khususnya pendidikan kejuruan — memperlihatkan bahwa siswa SMK tidak hanya menguasai kompetensi teknis, tetapi juga mampu berpikir kritis, berkomunikasi secara publik, dan berani menyampaikan gagasan pembangunan di tingkat nasional.

Apresiasi dan Harapan Baru

Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), turut menyampaikan apresiasi mendalam terhadap kemampuan para finalis.

“Saya sungguh berbahagia dan terharu. Tadi mata saya berkaca-kaca, terkesima dan membayangkan jika semakin banyak generasi kita seperti ini,” ungkapnya.

Pencapaian Prevy juga menjadi kebanggaan bagi keluarga besar SMK Negeri 4 Kupang, para guru, pendamping, serta masyarakat NTT. Dalam persiapan menuju final nasional, Prevy mendapat pendampingan dari Winston Neil Rondo selaku mentor, bersama Semi Ndolu dan Sandra Sanbein sebagai pendamping. Perjalanan tersebut menunjukkan pentingnya dukungan sekolah, keluarga, dan lingkungan dalam memberikan ruang bagi anak muda untuk mengembangkan kemampuan serta kepercayaan dirinya.

Dari Kupang, Prevy telah membuktikan bahwa gagasan seorang siswi SMK dapat memperoleh tempat di panggung nasional. Juara ketiga bukan akhir dari perjalanannya, melainkan awal — sebuah pencapaian yang dapat menjadi inspirasi bagi pelajar lain di NTT untuk terus belajar, berani bermimpi, dan mengembangkan potensi diri. Anak muda NTT tidak kekurangan mimpi. Mereka membutuhkan kesempatan untuk mengubah mimpi itu menjadi karya.

Bagikan: