Rote Ndao, NTT
Sebagai syarat mutlak sebelum diberi izin memegang dan menggunakan senjata api dinas, sebanyak 131 personel Polres Rote Ndao mengikuti tes psikologi guna memastikan kesiapan mental, kematangan emosi, serta kepribadian yang andal saat menjalankan tugas operasional. Kegiatan berlangsung Kamis (13/08) di SMK Negeri 1 Lobalain, Desa Holoama, Kecamatan Lobalain.
Tim penguji langsung didatangkan dari Polda NTT, dipimpin Kompol Dwi Chrismawan, M.Si., M.Psi., bersama Bripda Yoseph Alexander Rewo. Peserta utamanya adalah personel dari fungsi operasional Samapta, Reskrim, dan Intelkam, serta turut melibatkan personel Brimob Kompi III Batalyon A Pelopor Polda NTT yang bertugas di wilayah Rote Ndao.
Pelaksana Harian Kabag SDM Polres Rote Ndao, AKP Frits O Matly, menyampaikan bahwa psikotes ini merupakan agenda rutin sekaligus bentuk pengawasan ketat terhadap penggunaan senjata api milik Polri.
“Tes psikologi ini adalah syarat wajib yang harus dipenuhi setiap anggota sebelum diberi izin memegang senjata api. Melalui tahapan ini, kondisi psikologis personel dapat diketahui secara menyeluruh,” jelas AKP Frits.
Tes ini tidak hanya mengukur aspek kecerdasan, tetapi mencakup stabilitas emosi, kematangan kepribadian, kemampuan mengambil keputusan, pengendalian diri, serta kesiapan menghadapi tekanan saat bertugas. Selama ujian berlangsung, seluruh peserta dilarang menggunakan ponsel dan wajib mematuhi ketentuan yang berlaku.
Personel yang dinyatakan lulus baru dapat diberikan senjata untuk mendukung pelaksanaan tugas, namun tetap berada dalam pengawasan ketat dan sepenuhnya mengikuti prosedur operasional standar.
Hasil tes juga menjadi dasar pemberian izin dengan jangka waktu tertentu. Bagi personel yang masa izinnya telah habis, wajib mengikuti tes kembali.
“Jika lulus, senjata dapat digunakan untuk tugas — namun tetap diawasi dan terikat SOP. Hasil tes juga menentukan masa berlaku izin masing-masing personel,” katanya.
AKP Frits menegaskan, kegiatan ini adalah bukti komitmen agar pemberian izin penggunaan senjata api dilakukan secara selektif dan bertanggung jawab.
“Kami ingin meningkatkan profesionalisme personel. Izin senjata diberikan dengan prinsip kehati-hatian, keselamatan, dan tanggung jawab — demi keamanan dan kenyamanan masyarakat luas,”pungkasnya.