Kisah Roswita, Gadis Sumba di Antara Relawan Rote Mengajar

Rote Ndao, NTT

Roswita Rambu Kareri Ana Jiangu, dara manis asal Pulau Sumba, dulunya tidak pernah terpikirkan akan menginjakkan kaki di Kabupaten Rote Ndao, pulau paling selatan di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun niat tulusnya untuk berbagi ilmu mengantar mahasiswi Program Studi Psikologi Universitas Nusa Cendana Kupang ini menapaki titik nol paling selatan negeri, demi bertemu anak‑anak yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya.

Gadis yang akrab disapa Roswita itu kini berdiri di halaman dan ruang kelas SMP Negeri 2 Rote Selatan, menjadi salah satu dari 206 relawan yang bergabung dalam gerakan mulia: “Rote  Mengajar 2026”.

Bagi Roswita, “mengajar” bukan sekadar soal papan tulis, buku tebal, atau menyampaikan materi pelajaran semata. Baginya, mengajar adalah tentang berbagi apa yang ia miliki, pengetahuan, pengalaman, perhatian, dan harapan untuk anak‑anak remaja Rote  Ndao yang sedang tumbuh, bermimpi, serta mencari arah masa depan mereka.

“Yang menarik itu ketika kita bisa berbagi dengan orang lain, apa yang kita punya. Itu pasti jadi sesuatu yang bermanfaat,” ucapnya penuh semangat pada Minggu (23/8/2026).

Ia tahu betul siapa yang ia hadapi, anak-anak SMP, Usia yang rapuh, penuh tanya, dan sedang mencari-cari siapa dirinya.

“Mereka masih masa remaja, masih mencari jati diri. Mereka butuh orang yang bisa mengarahkan, yang bilang: kamu bisa ke sana” katanya.

Menurut Roswita, alasan dirinya ikut bukan hanya karena panggilan hati untuk mengabdi, ada juga rasa penasaran pada Rote, pada lautnya, pantainya, dan cerita-cerita tentang pulau paling selatan di Indonesia itu.

“Keindahan Rote dengan tempat wisatanya yang banyak, itu juga yang bikin saya tertarik. Akhirnya saya ambil kesempatan ini,” ujarnya sambil tersenyum.

Rote membalasnya dengan cara yang tak terduga, begitu kakinya menginjak pelabuhan, tarian adat sudah menunggu, Senyum-senyum ramah menyambut, Panitia dari Rote dan Kupang memeluk mereka dengan kehangatan.

“Saya senang sekali. Sangat happy, exited, dan antusias,” kata Roswita, matanya berbinar.

“Dari pelabuhan disambut tarian. Sampai di sini disambut senyum ramah. Itu bikin kami sangat bahagia.” Tambahnya.

Di tengah 206 relawan yang datang dari berbagai penjuru, ada satu niat yang sama: pulang untuk memberi.

Dan Roswita, gadis Sumba yang belajar psikologi di Kupang, kini memilih pulang ke Rote, bukan ke rumahnya, tapi ke rumah yang lebih besar, masa depan anak-anak Rote.

Karena ia percaya, satu cerita yang ia bagikan hari ini, bisa jadi kompas bagi seorang remaja yang sedang tersesat mencari arah.

Program Rote Mengajar 2026 “Sehari Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi” berlangsung hingga 25 Agustus 2026.

Penulis : Roman Malelak

Bagikan: