Gema Suara Kebebasan Mus Frans : “I Love You More Nihi Rote”, Kebenaran Menang

Rote Ndao, NTT

Palu hakim mengetuk, dan kebenaran akhirnya menang. Erasmus Frans Mandato, akrab disapa Mus Frans, resmi bebas murni dari segala tuntutan di Pengadilan Negeri Rote Ndao, Selasa (21/4/2026).

Di tengah sorak-sorai dan tangis haru ribuan massa pendukung, aktivis lingkungan hidup itu melontarkan kalimat cinta yang sekaligus menjadi tamparan keras bagi nurani:

“I Love You More Nihi Rote.”

Kalimat itu bukan sekadar ungkapan semata, melainkan deklarasi bahwa cinta pada tanah kelahiran lebih kuat dari segala intimidasi dan upaya pembungkaman.

Mus Frans membuktikan, keberanian menyuarakan kritik terhadap penutupan akses Pantai Oemau bukanlah hoax, melainkan pembelaan hak hidup rakyat.

Dengan mata memandang tajam dan suara bergetar, Ia menyampaikan penghormatan sekaligus pesan tegas kepada aparat penegak hukum.

“Yang saya sangat sayang dan hargai Polres Rote Ndao, yang saya hormati Kejaksaan Negeri Rote Ndao,” ucapnya, menunjukkan kedewasaan di atas rasa sakit yang dialaminya.

“Hari ini saya tidak ada apa-apanya, saya hanya manusia biasa. Kalian juga bukan apa-apa di sini. Tapi tanpa dedikasi dan keberanian, keadilan tidak akan pernah terwujud. Kalian luar biasa,” serunya membakar semangat massa.

Mus Frans menegaskan, kemenangan hari ini adalah bukti nyata bahwa demokrasi di Rote Ndao mulai bernapas kembali. Keadilan hadir bukan untuk membinasakan, melainkan memberi kehidupan.

“Hari ini ada matahari yang menatap kita tetapi tidak membunuh, justru memberikan kehidupan. Itulah keadilan yang kita perjuangkan,” tegasnya.

Ia pun mengapresiasi gelombang solidaritas yang mengguncang dunia, bukan karena sosoknya, tapi karena esensi perjuangan membela yang benar.

“Doa-doa dari tangan-tangan kecil yang menguatkan akhirnya terjawab. Pengadilan hari ini telah menjadi benteng pertahanan kebenaran,” ujarnya penuh syukur.

Namun, perjuangan belum usai. Dengan nada tegas, ia mengingatkan bahwa rakyat bukan sekadar alat politik saat pemilu.

“Jangan anggap kami kecil tidak bernilai. Tugas kami bukan hanya mencoblos, tapi mengawal keadilan itu sendiri. Panjang umur perjuangan. Panjang umur keadilan”.

Teriakan itu menggema, meninggalkan pesan mendalam bagi siapa saja yang mencoba menutup mata terhadap kebenaran di Bumi sejuta lontar.

 

Penulis : Roman Malelak

Editor : Nyongky

Bagikan: