JAKARTA
Dalam forum Knowledge Sharing Pembangunan Daerah Tahun 2026 yang diselenggarakan Kementerian PPN/Bappenas, Rabu (30/9/2026), Bupati Rote Ndao Paulus Henuk, S.H., berdiri sepanggung bersama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi serta kepala daerah lainnya untuk berbagi pengalaman transformasi pembangunan.
Di hadapan peserta, Paulus Henuk memaparkan strategi konkret Rote Ndao dalam menekan angka kemiskinan dan bertransformasi dari daerah tertinggal menjadi daerah yang tumbuh paling progresif, meskipun berhadapan dengan keterbatasan wilayah kepulauan.
Berada di satu sesi bersama Dedi Mulyadi, yang dikenal dengan pendekatan pembangunan berbasis masyarakat di Jawa Barat, Paulus Henuk menyampaikan bahwa bagi daerah kepulauan dan perbatasan seperti Rote Ndao, penurunan kemiskinan tidak bisa hanya mengandalkan satu sektor semata. Perlu sinergi lintas sektor, keberlanjutan program, dan kehadiran negara di wilayah-wilayah yang paling sulit dijangkau.
“Sebagai daerah kepulauan dan perbatasan negara, kami menghadapi tantangan yang tidak sama dengan daerah daratan. Namun justru keterbatasan itulah kami menemukan jalan, memperkuat pelayanan dasar, meningkatkan kualitas manusia, membangun infrastruktur konektivitas, dan mengembangkan potensi lokal menjadi sumber pertumbuhan ekonomi,” ujar Paulus di hadapan ratusan peserta forum.
Transformasi itu terlihat dari angka-angka yang disampaikan. Laju pertumbuhan ekonomi Rote Ndao melonjak dari 3,21 persen pada 2024 menjadi 7,96 persen pada 2025, tertinggi di Provinsi NTT. Capaian ini disertai penurunan angka kemiskinan dan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi juga diiringi dengan pemerataan kesejahteraan.
Paulus menegaskan bahwa penurunan kemiskinan di daerah kepulauan tidak bisa instan. Dibutuhkan kesabaran, konsistensi, dan keberanian untuk memprioritaskan hal-hal yang langsung menyentuh kehidupan warga, jalan yang menghubungkan sentra produksi, air bersih, kesehatan, pendidikan, serta akses pasar bagi petani dan nelayan.
“Kami tidak berhenti pada angka pertumbuhan. Yang kami kejar adalah pertumbuhan yang mengangkat orang miskin keluar dari kemiskinan. Di pulau-pulau kecil, setiap jalan yang dibangun, setiap irigasi yang mengalir, setiap pelayanan kesehatan yang sampai, itu adalah langkah menuju kemerdekaan dari kemiskinan,” imbuhnya.
Sesi berbagi pengalaman bersama Dedi Mulyadi menjadi momen pertukaran pandangan yang berharga. Jika Jawa Barat berbicara tentang skala besar dan keragaman industri, Rote Ndao menyampaikan pengalaman daerah kecil yang berjuang memanfaatkan segala potensi yang dimiliki, mulai dari pertanian, perikanan, hingga pengembangan industri garam nasional melalui K-SIGN, untuk berdaulat secara ekonomi.
“Dari Pak Dedi Mulyadi dan kepala daerah lainnya, kami belajar banyak tentang semangat bergerak cepat dan dekat dengan rakyat. Semoga cerita Rote Ndao pun bisa menjadi bukti bahwa daerah kepulauan bukan sekadar wilayah pinggiran, melainkan bagian penting dari masa depan bangsa,” ujar Paulus di akhir sesi.
Pada kesempatan yang sama, Rote Ndao juga menerima penghargaan sebagai Kabupaten Terentaskan Paling Progresif. Penghargaan ini menjadi penegasan bahwa transformasi kemiskinan di daerah kepulauan adalah mungkin, asal ada komitmen, kebersamaan, dan kerja nyata yang berkelanjutan.