Rote Ndao, NTT
Wakil rakyat “hilang” saat rakyat butuh. Demikian ungkapan yang layak disandingkan dengan suasana saat rapat dengar pendapat antara DPRD, Bupati Rote Ndao, managemen PT Bo’a Development dan masyarakat Bo’a, Selasa (29/10/2025).
Betapa tidak, dalam Rapat dengar pendapat (RDP) terkait polemik antara masyarakat Bo’a dan PT. Bo’a development, mayoritas kursi anggota DPRD kosong.
Entah sedang menjaring aspirasi di tengah masyarakat atau tidak peduli dengan urusan warga Bo’a, sehingga tidak hadir dalam rapat yang menentukan masib warga Bo’a.
“Kita kecewa karena hari ini kita diundang untuk RDP tapi ternyata hanya beberapa anggota DPR saja yang ada,” ungkap seorang warga yang enggan namanya dipublikasi.
Dia mengapresiasi anggota DPR yang hadir dan peduli dengan nasib warga Bo’a terkait akses warga ke ruang publik.
“Terima kasih pak Mersi, pak Fecky, Pak Mika, pak Haning dan pak Efendi Muda, serta ketua DPR dan 2 wakil ketua yang hadir,” ujarnya.
Untuk diketahui, anggota DPRD yang hadir saat dengar pendapat berjumlah 8 di antaranya Ketua DPR, Alfred Saudila, Wakil Ketua Denison Mooy, Wakil ketua, Lasarus Pah, dan 5 orang anggota yakni Mikael Manu, Fecky M Boelan, Efendi Muda, Mersianus Tite dan Melkianus Haning
Selain anggota DPRD, rapat dengar pendapat juga dihadiri Bupati Rote Ndao bersama jajaran, Kapolres Rote Ndao dan masyarakat Bo’a, dan perwakilan mahasiswa.