Menyuburkan Harapan di Tanah Tandus Batas Terselatan NKRI

Rote Ndao, NTT

Siang itu udara di kompleks persawahan Ingupapan, desa Nusakdale, Kecamatan Pantai Baru, Kabupaten Rote Ndao, cukup menyengat. Teriknya matahari bulan Oktober di batas terselatan Indonesia ini begitu membara.

Pepohonan di sekitar kompleks persawahan masih berdiri kokoh namun hanya berbentuk rangka tanpa daun. Barangkali itulah strategi pepohonan mempertahankan hidup dengan mengiklaskan daun.

Di sebuah sudut kompleks persawahan Ingupapan, Jacob Baleng, seorang pria parubaya berdiri di pematang sawah miliknya, menatap setiap bulir padi yang bergoyang dihembus angin.

“Saya bersyukur karena padi musim tanam kedua ini tumbuh subur dan bernas,” ungkap Jacob dengan wajah berbinar.

Kompleks persawahan Ingupapan

Ada begitu banyak guratan usia yang terpampang di wajahnya, mengisyaratkan bahwa ada sebuah perjuangan yang keras telah ia lalui.

“Musim tanam kemarin (MT 1), padi yang kami tanam merana, karena kami kesulitan mendapat pupuk,” terang Jacob.

Hampir semua petani di kompleks perwahan tersebut memgalami gagal panen kala itu.

“Bukan hanya saya yang gagal panen, hampir semua petani di kompleks ini sama – sama gagal karena sulit mengakses pupuk subsidi,” ungkapnya.

Kesulitan yang dialami para petani akhirnya membuat mereka berani untuk melawan para mafia yang memainkan harga pupuk lewat transportasi.

“Kami gelar pertemuan dengan pengecer pupuk dan para pemangku kepentingan. Saat itu kami semu menolak dengan tegas biaya transport yang sudah dipatok oleh pengecer sebesar Rp35 ribu/ sak,” jelas Jacob.

“Kami kemudian bersepakat untuk mengambil sendiri pupuk di gudang pengecer menggunakan kendaraan sendirii,” imbuhnya.

Tidak hanya harga pupuk yang terkendali, pengecer juga menjamin ketersediaan pupuk di gudangnya. Selain itu, seluruh urusan administrasi dipermudah.

Kini, cerita itu telah berlalu seperti musim kemarau yang usai. Pupuk datang bukan lagi sebagai beban, melainkan sebagai sahabat yang datang tepat waktu, bahkan jauh sebelum padi ditanam.

Harga kembali ke tempatnya, sekitar Rp100.000 hingga Rp110.000 per sak, sudah termasuk biaya transportasi dari gudang pengecer ke petani.

“Saat ini kami menanam dengan tenang. Pupuk datang sebelum kami butuhkan. Tanaman tumbuh sehat, dan kami pun tidur lebih nyenyak di malam hari,” tutur Jacob.

Yani Netti, Ketua Kelompok Tani Fuakdale, menyebut perubahan ini bukan sekadar soal harga, tetapi tentang harga diri petani.

Tentang prosedur yang tak lagi menyulitkan, tentang informasi yang sampai lebih dulu, tentang keadilan yang terasa di setiap butir pupuk yang ditebus.

“Kami tidak lagi berlari mengejar waktu atau harga. Kami menanam tepat waktu, dan alam pun menjawab dengan limpah,” katanya lembut.

Rote  Ndao Surplus Beras

Nixon Balukh, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Rote Ndao, menegaskan bahwa keberhasilan pertanian bukanlah perjudian dengan nasib. Ia adalah pertemuan empat hal, benih yang baik, pupuk yang tepat waktu, pengendalian hama yang cermat, serta dukungan teknologi yang memanusiakan petani.

“Jangan menunggu musim tanam tiba baru mencari pupuk. Seperti halnya harapan, pupuk pun harus disiapkan lebih dulu, agar saat waktu tiba, ia sudah berakar kuat,” pesannya, penuh makna.

Pemerintah juga mendukung petani dengan fasilitas pendukung seperti saluran irigasi dan bantuan alat mesin pertanian (Alsintan).

Dukungan pemerintah dan komitmen kuat dari para petani membuahkan hasil yang menggembirakan. Hingga Juli 2026, Rote Ndao mencatat sesuatu yang dulu hanya mimpi yakni surplus pangan.

Bulog menyerap 1.476 ton gabah, dua kali lipat lebih dari tahun sebelumnya. Angka itu bukanlah statistik semata. Itu adalah bukti bahwa ketika kebijakan berpihak pada kebenaran dan rakyat kecil, panen tidak hanya menambah angka, tetapi menumbuhkan kesejahteraan yang nyata.

Bupati Rote Ndao, Paulus Henukh saat kunker ke kompleks persawahan Ingupapan

Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, menyebut dukungan pemerintah dalam memperlancar distribusi pupuk le petani merupakan fondasi kemandirian yang sejati.

“Kemandirian pangan tidak lahir dari keajaiban. Ia lahir ketika petani di ujung selatan negeri ini merasa didukung, dihargai, dan diperlakukan adil. Pupuk yang tepat waktu adalah bahasa penghargaan negara kepada mereka yang memberi makan kita semua,” ujarnya.

Jacob Baleng berjalan pulang meninggalkan sawahnya. Di belakangnya, padi bergoyang lembut ditiup semilir angin. Bulir-bulir yang penuh dan bernas menunduk dengan rendah hati, persis seperti pelajaran yang ia petik sepanjang hidupnya, bahwa panen yang paling bernas bukanlah yang terbesar jumlahnya, tetapi yang tumbuh dari ketenangan hati dan keadilan yang ditegakkan.

Bahwa harapan akan tumbuh subur.  seperti benih yang baik, asalkan kita memberinya pupuk yang cukup di waktu yang tepat.

Penulis : Nyongki Malelak

Bagikan: