Rote Ndao, NTT
Siang itu, rumah rakyat di area perkantoran Bumi Ti’ilangga menggema. Suara lantang aktivis linghkungan hidup, Erasmus Frans Mandato, menggetarkan mimbar kehormatan dewan perwakilan rakyat rakyat (DPRD) kabupaten Rote Ndao saat diberi kesempatan untuk memyampaikan buah pikirannya pada rapat dengar pendapat terkait penutupan akses jalan ke pantai Bo’a, Rabu (29/10/2025).
“Hentikan sebut nama saya, berhenti katakan bebaskan Mus Frans, tetapi yang jangan dihentikan adalah esensi perjuangan untuk pembebasan akses jalan ke ruang publik (Pantai Bo’a),” ujar Mus Frans menggelegar.
Dia menegaskan, perjuangan yang dilakukan sejatinya untuk kepentingan banyak orang. Pasalanya, jika hari ini pantai Bo’a diprivatisasi dan akses jalan ditutup, tidak menutup kemungkinan akan merambat ke tempat lain.
Katena itu, salah satu tokoh pariwisata Rote Ndao ini berkomitmen untuk terus berjuang kendati raganya terancam dibelenggu jeruji besi.
“Saya tidak menyalahkan pak Kapolres, sebagai warga negara saya ikut prosedur hukum. Adik-adik, masyarakat tidak usah khawatir, saya bisa menghadapi persoalan hukum atas diri saya sendiri,” tegas Mus Frans.
Eramus mengingatkan bahwa masyarakat Delha adalag orang yang cinta Damai, namun dibalik itu, ada kekuatan yang tidak tertandingi.
“Sejarah mencatat bahwa kerajaan Delha merupakan kerjaan yang tidak pernah dijajah. Kenapa kerjaan Delha begitu kuat, karena ada benteng yang dibangun mengelilingi Delha dan benteng itu sangat sakral. Kenapa sakral, bahwa setiap mereka yang niat jahat melewati benteng itu, nyawanya tidak bisa diselamatkan,” tandas Erasmus.
“Bahwa mereka yang punya niat buruk di Rote Barat, khususnya di Nemberala, Bo’a, Sedeoen dan sekitanya akan terumgkap tepat pada waktunya,” imbuhnya.
Erasmus menegaskan bahwa dalam MoU antara pemda Rote Ndao dan PT Bo’a Development menyebutkan bahwa ada lahan publik yang tidak boleh ditutup.
“Karpet Emas yang diberikan, jangan lagi minta jantung, biarkanlah jalan sirtu PNPM yang ada dikembalikan fungsinya sebagaimana mestinya,” tegas Erasmus.
Penulis : Roman Malelak