Rote Ndao, NTT
Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi selama beberapa pekan terakhir di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, mencapai kondisi yang dinilai di luar batas kewajaran. Kondisi ini sangat meresahkan masyarakat, khususnya para petani yang kini terancam menderita kerugian besar karena hasil panen tidak bisa segera diolah.
Keluhan tersebut disampaikan langsung oleh Oktovianus Sinlae, warga Desa Persiapan Lidasue saat menghadiri kegiatan reses Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Rote Ndao, Miguel Heret Beama, di Dusun II Lidasue. Ia mengaku sangat gelisah karena tidak ada pasokan BBM untuk mengoperasikan mesin perontok padi.
“Kami sebenarnya tidak tahu di mana letak kesalahannya, tapi dampaknya sangat terasa bagi kami para petani. Kami baru saja selesai panen, tapi padi-padi itu tidak bisa dirontokkan karena tidak ada BBM. Akibatnya, hasil jerih payah kami selama berbulan-bulan terancam rusak dan tidak laku dijual,” keluh Oktovianus dengan nada prihatin, Sabtu (16/5/2026).
Oktovianus mewakili sesama petani setempat, menyampaikan harapan besar kepada pemerintah daerah agar masalah ini segera ditangani dengan sungguh-sungguh. Mereka ingin pemerintah memastikan pasokan BBM tetap lancar dan harganya terjangkau sesuai aturan.
“Kami berharap pemerintah segera turun tangan. Jangan biarkan hasil keringat kami hilang begitu saja. Kami hanya butuh kepastian pasokan, agar panen kami aman dan bisa menghidupi keluarga. Jangan sampai kelangkaan ini terus berulang setiap kali musim panen tiba,” ungkapnya penuh harap.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi III DPRD Rote Ndao, Miguel Heret Beama membenarkan bahwa kelangkaan BBM ini memang nyata terjadi. Ia menilai permasalahan ini muncul akibat lemahnya pengawasan dari pemerintah daerah, khususnya Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Koperindag).
Lebih tegas lagi, politisi partai PKB ini menyebut kondisi ini seolah ada permainan pihak-pihak tertentu di dalam sistem yang justru merugikan rakyat banyak.
“Saya juga heran, kapal pengangkut minyak baru saja bersandar tiga sampai empat hari yang lalu, tapi tiba-tiba BBM langsung langka. Tak lama kemudian muncul penjualan eceran di pinggir jalan dalam takaran kecil dengan harga melambung tinggi. Ini bukti nyata kurangnya ketegasan dan pengawasan yang ketat dari pemerintah. Seolah ada pagar makan tanaman, duri dalam daging, gunting dalam lipatan, serta musuh dalam selimut,” ungkap Miguel.
Ia pun membeberkan fakta di lapangan yang sangat memberatkan masyarakat. Menurut pengamatannya sendiri di ibu kota kabupaten, harga BBM takaran setengah botol saat ini berkisar antara Rp18.000 hingga Rp20.000.
“Baru kemarin saya isi di daerah Olalain, setengah botol harganya Rp20.000, pagi tadi masih di tempat yang sama turun jadi Rp18.000. Ini sangat tidak wajar dan membebani rakyat kecil,” tambahnya.
Miguel mengaku, pihak legislatif sebenarnya sudah beberapa kali menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) guna mencari solusi atas persoalan yang terulang ini. Namun nyatanya di lapangan kondisinya belum berubah.
Oleh karena itu, ia kembali menegaskan agar Dinas Koperindag segera bertindak tegas. Pengawasan harus diperketat untuk memutus mata rantai permainan atau mafia BBM yang diduga menjadi penyebab utama kelangkaan yang terjadi secara rutin di Rote Ndao ini.
“Kami minta Dinas Koperindag tidak lagi bersikap lembut. Harus ada tindakan nyata dan tegas, supaya kelangkaan yang selalu terulang ini bisa berakhir dan para petani bisa kembali bekerja dengan tenang serta sejahtera,” tandasnya.
Penulis Roman Malelak