Kekurangan Nakes di Puskesmas Ndao, DPRD : Kembalikan Personel, Naikkan Insentif

Rote Ndao, NTT

Menyikapi kekurangan tenaga medis di puskesmas Ndao yang viral di media sosial, Komisi II DPRD Kabupaten Rote Ndao menggelar Rapat kerja bersama Dinas Kesehatan, BKPSDM, dan Kepala Puskesmas, untuk membedah masalah yang sudah viral di media sosial, Selasa (5/6) .

Di meja rapat, terkuak fakta yang tak bisa dibiarkan. Selama tiga tahun terakhir, enam tenaga medis—bidan, perawat, sanitarian—dipindahkan ke Puskesmas Baa, Oelaba, dan Sotimory.

Masalahnya, mutasi itu dilakukan tanpa rekomendasi Kepala Puskesmas. Ini bukan sekadar administrasi, tapi soal prosedur yang dilanggar hingga membuat puskesmas “kehilangan tulang punggung”.

Oleh karena  itu, DPRD minta ASN yang formasi awalnya di Ndao, wajib pulang ke Ndao. Tidak bisa main pindah seenaknya.

Solusi Tegas: Tambah Orang, Naikkan Gaji

Ketua Komisi II, Meksi Mooy, S.Pd., dengan tegas mengatakan  butuh tambahan total 15 tenaga medis. Enam orang dikembalikan dari mutasi lama, sembilan orang lagi ditambah baru sesuai kebutuhan teknis.

Namun, menambah orang saja tak cukup. Realita di pulau itu keras: biaya transportasi laut mahal, harga sembako tinggi, rumah dinas tak memadai sehingga harus sewa tempat tinggal yang harganya selangit.

DPRD juga dengan tegas merekomendasikan, Insentif dinaikkan dari Rp1 juta jadi Rp2 juta. Naik 100 persen. Ini bukan pamer kemewahan, tapi penghargaan logis agar tenaga medis bisa hidup layak dan tenang bekerja.

Soal media sosial, DPRD perintahkan agar dikelola satu orang saja. Jangan sampai informasi simpang siur, bikin masyarakat resah dan petugas bingung.

Terkait isu yang meledak di medsos, Komisi II mengambil sikap bijak, siapapun yang memosting, tidak perlu ditindak hukum atau disanksi administratif.

“Alasannya sederhana: Jangan bunuh semangat mereka. Mental petugas harus dijaga, bukan dihukum. Biarkan mereka fokus mengobati, bukan sibuk membela diri,” tegas Meksi Mooy.

Sementara itu, Kepala Puskesmas memastikan, pelayanan tetap jalan. Saat ini ada 27 tenaga yang bertahan. Tapi angka idealnya? Butuh 80 orang. Artinya, masih kurang 53 orang.

Defisit separuh lebih ini memaksa yang ada bekerja shift terus-menerus, lembur tanpa jeda. Ini bukan soal kuat atau tidak, tapi soal kewajaran beban kerja. Harus diperbaiki, demi kesehatan petugas dan keselamatan pasien. (Advertorial)

Bagikan: